Kita Sering Menghargai Orang Lain, Tapi Sudahkah Melakukan Hal yang Sama ke Diri Sendiri?

Pernah nggak sih kamu merasa kalau kita sering memperlakukan diri sendiri lebih keras daripada orang lain?
Saat teman melakukan kesalahan, kita mungkin bilang, “Nggak apa-apa, namanya juga belajar.” Tapi ketika kita melakukan kesalahan yang sama, responnya malah, “Kok gini aja nggak bisa, sih?”. Saat teman merasa kurang percaya diri dengan penampilannya, kita berusaha meyakinkan bahwa dia nggak perlu membandingkan dirinya dengan orang lain. Tapi beberapa jam kemudian, kita melihat diri sendiri di cermin dan mulai mencari apa saja yang terasa kurang.
Tanpa sadar, kita sering memberikan pengertian kepada orang lain, tapi menetapkan standar yang jauh lebih keras untuk diri sendiri. Padahal menghargai diri sendiri bukan cuma tentang memberikan reward atau mengatakan bahwa kita mencintai diri sendiri. Salah satu bentuk paling sederhana justru dimulai dari bagaimana kita berbicara, menilai, dan memperlakukan diri setiap hari.
Kenapa Kita Bisa Begitu Keras pada Diri Sendiri?
Salah satu alasannya karena kita tahu semua tentang diri sendiri. Kita tahu kesalahan yang pernah dibuat, target yang belum tercapai, kesempatan yang terlewat, sampai kekurangan yang mungkin nggak diketahui orang lain. Karena melihat semuanya dari jarak yang begitu dekat, kekurangan diri sendiri bisa terasa jauh lebih besar.
Belum lagi ketika kita mulai membandingkan hidup dengan orang lain. Kita melihat pencapaian mereka, lalu membandingkannya dengan bagian hidup kita yang menurut kita masih kurang. Akhirnya muncul kalimat seperti, “Harusnya aku sudah bisa,” “Kenapa aku masih begini?” atau “Kok orang lain bisa, aku nggak?”
Evaluasi diri sebenarnya diperlukan. Tapi ada perbedaan antara mengakui kesalahan untuk berkembang dan menggunakan kesalahan sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri. Menghargai diri bukan berarti selalu membenarkan kesalahan. Kita tetap bisa mengevaluasi diri, tetapi tanpa merendahkannya. Kita mungkin nggak sadar seberapa sering melakukan negative self-talk karena sebagian besar percakapan tersebut hanya terjadi di kepala. Coba mulai perhatikan kalimat yang muncul ketika sesuatu nggak berjalan sesuai harapan.
Kamu Bisa Berkembang Tanpa Membenci Dirimu yang Sekarang
Keinginan untuk menjadi lebih baik sebenarnya nggak harus selalu dimulai dari rasa tidak suka terhadap diri sendiri. Kita boleh ingin lebih disiplin, lebih percaya diri, memperbaiki kebiasaan, mengejar sesuatu yang belum tercapai, atau mengubah bagian dari hidup yang memang sudah nggak sesuai.
Tapi semua itu bisa dilakukan sambil tetap menerima bahwa diri kita yang sekarang juga pantas dihargai. Kamu nggak harus menunggu sampai semua target tercapai, penampilan berubah, karier berjalan sesuai rencana, atau hidup terasa sempurna untuk mulai memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik.
Mungkin kita memang belum menjadi versi diri yang kita inginkan. Tapi versi yang sekarang adalah orang yang sedang berusaha membawa kita sampai ke sana. Dan mungkin, salah satu bentuk menghargai diri yang paling sederhana adalah berhenti menjadi orang yang paling sering menjatuhkan diri sendiri.
Kita sudah tahu caranya menghargai, memahami, dan memberikan kesempatan kepada orang lain. Jadi, berikan hal yang sama kepada diri sendiri bahkan lebih.